Pamulang- Sehubungan telah selesainya kompetisi poster, penulisan opini, dan video opini tahun 2020 yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional dalam rangka hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020 dan kegiatan di saat kondisi pandemik Covid-19.Kompetisi tersebut tidak lain dalam rangka menumbuhkembangkan prestasi dan bakat Mahasiswa pada Pendidikan Tinggi dan memperingati Hari Pendidikan HariGizi Nasional diperingati setiap tanggal 25 Januari. Dilansir dari website Departemen Kesehatan RI, penetapan tanggal ini didasarkan pada pendirian Sekolah Djuru Penerang Makanan (SPDM) pada tanggal 25 Januari 1951. Opini : Selamat Hari Gizi Nasional. 25/01/2018 05/07/2018 oleh Ahmad Andrian F-1.436 views. Programprogram ini hanya sebagian kecil dari elemen yang ikut bertanggung jawab atas pendidikan yang ada di Indonesia. Sukses atau tidaknya program-program seperti ini dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah tentu tak lepas dari peran para pegiat lokal pendidikan dan masyarakat. Mereka adalah kepala sekolah, pendidik, tenaga Padahari ini (12/5) juga diresmikan gedung sekolah SDN 1 Buraen yang merupakan salah satu SD binaan YPA-MDR dalam acara Festival KBA Kupang, NTT. SDN 1 Buraen adalah sekolah tertua di Amarasi Selatan yang dibangun pada tahun 1928. Foto : Astra for Katakota.com Marilah kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang Esa Mahakasih atas perkenanNya kepada kita dapat tiba pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2020. Puji Tuhan! Dalam momentum Hardiknas 2020 ini kita mengenang Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional. Mengenang karya pelayanannya di bidang pendidikan dan kebudayaan. Untuk itu kami menyampaikan Disisi lain, kualifikasi guru Indonesia juga menjadi permasalahan di Indonesia. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 9 menyebutkan, setiap guru wajib memperoleh kualifikasi pendidikan minimal S1/4. Namun, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih mencatat terdapat guru yang di bawah jenjang S1. Guru yang telah tersertifikasi pun juga Jakarta CNBC Indonesia - Setiap tahunnya, tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Untuk tahun ini, tema Hardiknas adalah "Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar". Terkait Hardiknas, Presiden Joko Widodo (Jokowi) merilis harapannya. Hal itu tertuang dalam unggahan di akun Instagram resminya @jokowi seperti dikutip CNBC Indonesia, Minggu (2/5/2021). 3F5XQ9. › Opini›Mengurangi Kesenjangan... Pendidikan yang dijalankan dengan menjunjung rasa gotong royong antara guru, sekolah, dinas pendidikan, aktivis dan peneliti pendidikan, juga orangtua dan siswa harus dikembangkan untuk mengurangi kesenjangan pendidikan. HERYUNANTOIlustrasi”Kami memang tidak sepintar orang Jawa,” ujar banyak guru di daerah Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ujaran serupa konon juga kerap diucapkan oleh guru-guru di daerah terpencil jauh dari Pulau Jawa atau yang disebut daerah 3T terdepan, terpencil, dan tertinggal.Para guru tersebut tidak percaya diri karena banyak materi atau pembelajaran yang diminta, berbeda dengan kenyataan hidup mereka sehari-hari. Misalnya mempelajari tari Saman dari Aceh, yang tariannya belum diketahui guru, atau siswa diminta membuat kliping, padahal tidak ada koran yang beredar di desa. Jangankan melihat video di jaringan internet, saluran listrik dan gawai untuk mengaksesnya pun tidak tersedia. Banyak guru tidak paham, apalagi murid-murid mereka. Cerita tersebut dibagikan oleh aktivis Pendidikan Sokola Institute, yang mengamati pendidikan di daerah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, Fadilla Mutiarawati, saat kami membicarakan daruratnya pendidikan di Indonesia, apalagi sering disebut sebagai learning loss, padahal bukan. Dengan kondisi seperti ini, mengapa pemerintah masih memaksakan program pembelajaran terpusat dari Jakarta?Pentingnya bahasa ibu Dalam artikelnya di 21/9/2022, Fadilla menekankan pentingnya penggunaan bahasa ibu, terutama bahasa daerah, bagi pembelajaran di daerah-daerah terpencil karena ”Ayat mengenai bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada sistem pendidikan nasional… menghilang pada RUU Sisdiknas”. Rancangan Undang-Undang RUU Sisdiknas memang rencananya akan menggantikan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dianggap sudah kedaluwarsa, tetapi isinya banyak dilanggar oleh Kemendikbudristek, contohnya dengan tidak mengakui pelajaran dalam bahasa juga Hilangnya Hak Memperoleh Pendidikan dalam Bahasa IbuTragisnya, dari sumber referensi Kemendikbudristek sendiri Pendidikan di Indonesia, Belajar dari hasil PISA 2018. 2019. Jakarta Pusat Penilaian Pendidikan, disebutkan hal 32 disebutkan bahwa ”Pada PISA 2015 ada tren penurunan proporsi siswa penutur bahasa Indonesia. Saat itu, dibandingkan dengan total populasi anak usia 15 tahun, proporsi siswa PISA penutur bahasa Indonesia sebesar 25 persen, sementara pengguna bahasa daerah atau bahasa lain dalam percakapan sehari-hari mencapai 42 persen. Pada PISA 2018, proporsi siswa penutur non bahasa Indonesia meningkat pesat hingga mencapai 59 persen populasi anak usia 15 tahun, sementara siswa penutur bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari hanya 22 persen.”Berdasarkan informasi tersebut, artinya di tahun 2015, penggunaan bahasa Indonesia hanya 25 persen dan bahasa daerah 42 persen. Di tahun 2018, penggunaan bahasa Indonesia 22 persen, sedangkan penggunaan bahasa daerah naik menjadi 59 persen. Ini menunjukkan bahasa daerah masih dipakai dan harus terus digalakkan dalam lembaga formal pendidikan, tetapi mengapa pemerintah pusat tidak mengacu kepada hasil riset lembaganya sendiri untuk menyusun kebijakan penggunaan bahasa daerah di sekolah?Ini menyedihkan dan memperlihatkan pembuat kebijakan yang tidak mau membaca temuan berdasarkan fakta studinya sendiri, masih bersifat top-down, tidak menerima masukan dari akar rumput, apalagi mendengar masukan dari guru-guru di daerah 3T pada PISAReferensi Pusat Penilaian Pendidikan tersebut, juga acuan naskah akademik RUU Sisdiknas, dinilai mengacu pada PISA, yakni penilaian pendidikan yang dilakukan lembaga ekonomi antarpemerintah negara yang tergabung dalam Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi OECD. Sudah diketahui secara umum dari banyak laporan bahwa siswa-siswa Indonesia tidak mampu memahami bacaan sederhana atau menerapkan konsep matematika tes PISA siswa Indonesia dalam membaca pun amat rendah, skornya hanya 371, jauh dibandingkan rata-rata skor negara OECD di kisaran 487. Adalah benar bahwa skor rendah ini memprihatinkan dan kita harus melakukan sesuatu, tetapi seperti ditulis Fadilla, ”PISA tidak mampu mengukur kemahiran anak perempuan Kajang di Sulawesi Selatan yang menenun tope le’leng dengan pewarna dari daun tarung, atau ketepatan anak-anak Rimba di Jambi memasang jerat sesuai dengan morfologi hewan buruan di hutan yang kompleks.” Untuk mewujudkan nilai-nilai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan SDGs, pemeliharaan adat, nilai dan kebiasaan, termasuk bahasa daerah, perlu digalakkan, utamanya dalam PISA, konsep pendidikan mengacu pada pendidikan ala Barat. Konsep Merdeka Belajar yang diinisiasi pemerintah, misalnya, lebih banyak ditujukan untuk pendidikan tinggi setidaknya ada empat program Kampus Merdeka, dan bukan untuk memajukan pendidikan dasar. Pokok-pokok kebijakan Merdeka Belajar 1 pada awalnya pun lebih fokus kepada ujian dan mekanismenya. Padahal, banyak ahli pendidikan, misalnya Yudi Latif Kompas, 4 Mei 2022, menyatakan pentingnya transformasi pendidikan sebaiknya dimulai sejak pendidikan dini dan dasar. Saya pun setuju dengan pendapat ini, makanya peningkatan kapasitas guru—terutama untuk guru-guru di TK dan SD—amatlah juga Rekonstruksi PendidikanPeningkatan kapasitas guru pun dilakukan dengan Program Guru Penggerak yang terpusat secara nasional guru diminta mendaftar langsung ke suatu platform digital dan tidak sistemis. Artinya, kepala dinas pendidikan di daerah, baik di tingkat kabupaten/kota di mana desentralisasi dilakukan maupun tingkat provinsi dilewati!Jadi, walau banyak guru penggerak yang terbentuk, masih ribuan guru di Indonesia yang tidak terdaftar sebagai guru penggerak. Kita juga tahu bahwa guru memiliki wawasan luas. Namun, apabila lingkungan sekolah dan kepala sekolah tidak mendukung, guru tersebut tidak dapat ”merdeka” untuk mengaplikasikan ilmu yang lebih baik apabila program dilakukan sistematis, secara berkesinambungan juga untuk dinas pendidikan daerah, sekolah, dan kepala sekolah, bukan hanya untuk guru, tanpa mesti dilakukan terpusat dari Jakarta. Budaya daerah akan lebih berdaya apabila Jakarta percaya akan kemampuan daerah-daerah menjalankan pendidikan. Belum lagi program pelatihan Guru Penggerak intinya hanya berisi sosialisasi peraturan belaka, bukan semacam pelatihan pedagogi. Artinya, guru masih diminta mendengarkan paparan daripada mengembangkan pemikirannya sendiri!Ekosistem pendidikan Rezim pendidikan saat ini tampaknya senang dengan pengumpulan data. Setelah asesmen, di awal 2022, Kemendikbudristek mengeluarkan ”kebijakan Kurikulum Merdeka sebagai opsi pemulihan pembelajaran” dan ditawarkan langsung ke sekolah-sekolah dan guru penggerak. Pihak pemerintah daerah, walaupun tertera, tetapi tidak dijelaskan seperti apa kegiatan yang dapat paparan mengenai Sekolah Penggerak atau materi sosialisasi kurikulum ini sebelumnya juga disebut sebagai Kurikulum Prototipe ternyata disusun oleh para birokrat di Jakarta—dan bukan guru-guru sekolah dasar—yang walaupun berilmu mungkin belum memiliki pengalaman mengajar di depan kelas. Materi kurikulum ini kemudian diinformasikan kepada para sekolah dan guru untuk dijalankan tanpa ada proses uji coba dan umpan balik terlebih dalam mengelola pendidikan, lembaga OECD menekankan bahwa tidak ada satu sistem yang benar, yang dipentingkan adalah juga menyedihkan adalah mata pelajaran yang bersifat ekspresif, seperti musik, seni rupa, pekerjaan tangan, dan olahraga, hanya menjadi mata pelajaran pilihan belaka. Siswa diminta memilih salah satu saja! Ini tentu tidak sejalan dengan niat mengembangkan Profil Pelajar Pancasila, yang berisi pengembangan karakter dan lebih banyak dengan interaksi sosial. Siswa hendaknya tetap menerima semua mata pelajaran musik/menyanyi, menggambar, prakarya, dan olahraga, untuk membuka potensi yang ada, dan mengembangkan kreativitas, interaksi, kerja sama gotong royong dan bernalar dalam mengelola pendidikan, lembaga OECD menekankan bahwa tidak ada satu sistem yang benar, yang dipentingkan adalah prosesnya OECD, 2016 Governing Education in a complex world. Amat penting adalah ekosistem pendidikan yang terdiri dari guru dan kepala sekolah yang kompeten, adanya kesempatan belajar secara profesional, memiliki tujuan bersama apa yang akan dituju/aims dan bagaimana mencapai tujuan tersebut/guidelines; dan mengembangkan dialog terbuka untuk tersebut amat universal dan dapat dikembangkan di Indonesia, juga mengurangi kesenjangan pendidikan apabila guru-guru di daerah dapat menyampaikan pelajaran dalam bahasa setempat. Pihak dinas pendidikan dapat memulai mendokumentasikan nilai-nilai muatan lokal tersebut, sambil melestarikan budaya daerah yang mulai memudar untuk dipelajari generasi juga Kesenjangan Mutu dalam Rapor Pendidikan IndonesiaIndonesia memiliki bapak pendidikan bangsa, Ki Hadjar Dewantara, yang sudah meletakkan fondasi pendidikan yang humanis. Intinya, fokus kepada pembelajaran siswa dengan kualitas pendidikan dan keberpihakan equity, kebijakan berdasarkan riset, guru-guru yang profesional, kolaborasi gotong royong dan sinergi kebijakan antar dinas di tingkat kabupaten/ praktiknya, pendidikan dijalankan dengan menjunjung rasa gotong royong antara satu pihak dengan pihak lain guru, sekolah, dinas pendidikan, aktivis dan peneliti pendidikan, juga orangtua dan siswa. Semangat kolaborasi, saling percaya dan mendengarkan, juga menghormati peran masing-masing amat diperlukan di sini. Jangan sampai ujuran bahwa ”orang Jawa lebih pintar” itu masih ada dalam pendidikan Indonesia, apalagi dalam masyarakat kita yang bineka D Adiputri, Pengajar di Universitas Jyväskylä, FinlandiaDOK. PRIBADIRatih D Adiputri - Sejarah Hari Pendidikan Nasional tak lepas dari sosok dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Beliau adalah pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia di era kolonialisme. Hari Pendidikan Nasional Hardiknas adalah hari yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia setiap 2 Mei, untuk memperingati kelahiran dan menghormati jasa Ki Hadjar juga Hari Pendidikan Nasional 2021 Sejarah, Tema, dan Link Download Logo Ki Hadjar Dewantara Melansir 2 Mei 2020, pria kelahiran Pakualaman, Yogyakarta, 2 Mei 1889, ini dikenal sebagai pencetus Taman Siswa. Kutipannya yang terkenal, yakni "Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani". Artinya, di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik; di tengah atau diantara murid, guru harus menciptakan ide dan prakarsa; di belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan serta arahan. Nama asli Ki Hadjar Dewantara adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Melansir laman Kemdikbud, Ki Hajar Dewantara melahirkan sistem pendidikan nasional bagi kaum pribumi dengan nama Taman Taman Siswa berdiri pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta. Taman Siswa ini mengajarkan kepada pribumi tentang pendidikan untuk semua yang merupakan realisasi gagasan dia bersama-sama dengan temannya di Yogyakarta. Sekarang Taman Siswa mempunyai 129 sekolah cabang di berbagai kota di seluruh Indonesia. Baca juga Hari Pendidikan Nasional dan Solusi Belajar di Tengah Pandemi Corona... Bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara merupakan Mentri Pengajaran pertama Kabinet Presiden Soekarno yang kemudian menjadi Kementrian Pendidikan dan Pengajaran dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ki Hajar Dewantara juga merupakan Pahlawan Nasional ke-2 yang ditetapkan Presiden pada tanggal 28 November 1959 berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Dengan Keppres itu dia juga ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Berdasarkan pemberitaan Harian Kompas, 2 Mei 1968, karena jasa-jasanya, Ki Hadjar Dewantara mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Paulus Mujiran. Foto youtube Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tidak ada yang meragukan ketika berbicara mengenai kualitas pendidikan Tanah Air dari sisi akademik. Pencapaian kelulusan rata-rata Ujian Nasional UN setiap tahun mencapai di atas 99% mencerminkan pendidikan secara administrasi telah dikelola dengan baik dari sisi pencapaian akademik atau prestasi belajar. Pendidikan juga lebih murah karena ada program kartu pintar dan bantuan operasional sekolah BOS. Jumlah lulusan dari tahun ke tahun juga terus meningkat. Guru-guru juga sudah mendapat tunjangan sertifikasi yang diharapkan memacu kinerjanya. Capaian pendidikan juga jauh lebih membanggakan. Namun mengapa justru sekarang kita banyak meratapi kondisi anak-anak yang notabene lebih berpendidikan? Banyak keluhan mengenai kondisi anak-anak didik sekarang, seperti lebih sulit diatur, nakal, bahkan sebagian anak-anak terpelajar ini melakukan tindak kejahatan yang meresahkan. Orang tua juga mengeluhkan masih maraknya kekerasan di sekolah. Yang kerap luput dari perhatian kita adalah anak-anak sekarang hidup dan berkembang di era digital. Mereka berada dalam ketegangan antara model pembelajaran di sekolah yang cenderung masih konvensional dengan caracara pembelajaran modern yang didapat secara digital. Pembelajaran secara digital ini justru tidak mudah dibendung karena diberikan secara terus-menerus dan tidak mengenal waktu. Jika pembelajaran konvensional diberikan hanya dari pukul sampai pukul pembelajaran digital diberikan sepanjang hari bahkan 24 jam. Waktu bersama guru di kelas justru lebih terbatas ketimbang ketika anakanak belajar dengan sarana informasi modern yang kian tidak terbendung. Banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anaknya kepada sekolah. Itulah sebabnya pengetahuan anak-anak mengenai berbagai persoalan terkadang lebih lengkap ketimbang pengetahuan yang dipunyai oleh guru. Anak-anak bisa sangat kuat dalam penguasaan akademik mengenai sesuatu hal karena diperoleh dari internet tetapi lemah dalam karakter dan kemampuan pengendalian diri. Kerap terlupakan dalam kondisi semacam itu adalah pendidikan karakter atau budi pekerti. Di satu sisi anak-anak mendapat halhal yang berkaitan dengan kejujuran, kebaikan moral, perilaku etis, tetapi anak akan segera berhadapan dengan anomali ketika berhadapan dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Anak-anak mendapat pengetahuan tidak boleh mencuri, mencontek, mengambil barang anak lain, tetapi begitu masuk dalam kehidupan nyata, anak menyaksikan beritaberita media demikian banyak orang bebas melakukan tindakan korupsi. Demikian halnya guru berulang-ulang mengajarkan tentang pacaran sehat tetapi apa yang terbaca dari media massa mengenai perilaku seks bebas masa kini yang sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Oleh karenanya tak ayal pendidikan akan terus digugat relevansinya dalam masyarakat beradab belakangan ini. Gugatan terhadap kinerja guru boleh saja terus dipertanyakan ketika tidak mampu mendidik siswa/inya menjadi lebih tawakal, berperilaku santun sesuai harapan kebanyakan orang. Oleh karena itu, di tengah krisis nilai pendidikan perlu diorientasikan kembali menjadi pendidikan yang berpusat pada pembentukan budi pekerti peserta didik. Pertama, budi pekerti adalah memberikan kesempatan anak-anak berlatih menyediakan ruang kosong dalam hidupnya untuk masuk ke dalam pengalaman pribadi yang mendalam. Sekali waktu dalam sepekan anakanak diajak merefleksikan hidupnya. Nyaris tidak banyak di antara kita yang mengajak anak-anaknya merefleksikan hidupnya sendiri dan kemudian dihubungkan dengan tanggung jawab sosialnya sebagai pelajar. Kedua, dengan budi pekerti membuat anak-anak melihat persoalan-persoalan dalam hidup pada umumnya dalam kacamata hati. Ketika masyarakat pada umumnya terpola dalam budaya instan atau berpikir pendek, anak-anak perlu diajak berpikir dalam kerangka proses. Yang terjadi dalam ranah pendidikan kita sekarang anak-anak justru dibawa mengamini saja seluruh proses instan yang ada dalam masyarakat. Prakarya atau olah keterampilan, misalnya, mestinya anak-anak belajar seluruh proses secara mandiri. Ketiga, mengajak anak masuk lebih dalam hidupnya dengan membuat anak-anak mampu melihat persoalan dalam kacamata orang lain, bukan hanya berpusat pada dirinya sendiri. Mereka mempunyai naluri untuk bertemu orang, bukan hanya berkutat dengan gadget sebagaimana anak-anak zaman ini. Tetapi mereka belajar dari interaksi dengan sesama dan orang lain. Mereka akan lebih peka dan peduli pada kebutuhankebutuhan orang lain. Anak juga lebih mandiri karena belajar dari orang, bukan dari mesin atau robot. Ketidakmandirian tampak dari cara mereka bekerja dan menyikapi permasalahan. Yang terjadi sekarang ini prakarya dibeli di toko atau dibuatkan orang tua sehingga anak-anak tidak mengalami budaya proses. Hilangnya budaya proses ini menyebabkan anakanak memandang persoalan secara jangka pendek dan instan. Jika tidak bisa mengerjakan soal dalam ujian yang dilakukan adalah mencontek teman atau membawa contekan yang sudah disiapkan dari rumah dengan niat memang untuk mencontek. Jika harus membuat makalah tugas yang dilakukan adalah copas alias copy paste dari internet yang kini sudah sangat tersedia dengan bebas. Persoalan pendidikan memang tidak semata-mata membuat mereka pintar. Apakah orang tua yang memaksakan anaknya terus menjadi juara kelas sadar betul bahwa sekolah adalah ajang belajar hidup? Juga perusahaan-perusahaan yang hanya menerima para juara sekolah dengan indeks prestasi tinggi sudah benar dalam bertindak? Bukankah kebanyakan orang sukses bukan karena pintar atau juaranya tetapi bagaimana mampu mengolah hidupnya sehingga berarti bagi orang lain? Paulus Mujiran, Pendidik, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang Editor Gora Kunjana gora_kunjana Dapatkan info hot pilihan seputar ekonomi, keuangan, dan pasar modal dengan bergabung di channel Telegram "Official Lebih praktis, cepat, dan interaktif. Caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Baca Berita Lainnya di GOOGLE NEWS +5 › Komisi masa depan pendidikan UNESCO meluncurkan laporan yang menegaskan bahwa arah dan tujuan pendidikan harus berubah. Sistem pendidikan dinilai telah keliru, terlalu menekankan keberhasilan individu dan persaingan. DIDIE SW-Di akhir 2021, komisi masa depan pendidikan UNESCO meluncurkan laporan berjudul ”Reimagining Our Futures Together”.Laporan ini menegaskan bahwa arah dan tujuan pendidikan harus berubah. Sistem pendidikan dinilai telah keliru menyebarkan keyakinan bahwa kenyamanan dan keistimewaan jangka pendek lebih penting daripada keberlanjutan jangka panjang. Sistem pendidikan terdahulu terlalu menekankan nilai keberhasilan individu, pembangunan ekonomi dan persaingan nasional, sambil mengorbankan kebersamaan, pemahaman kesalingtergantungan manusia, serta kepedulian ke sesama dan Bumi. Pendidikan berarah baru harus menjamin solidaritas, welas asih, etika, dan empati tertanam dalam di desain kegiatan belajar UNESCO, 2021.Namun, dunia hari ini berdasarkan tata nilai yang benar-benar baruJika mau jujur, kritik tajam dari komisi masa depan pendidikan di atas juga tak keliru jika ditujukan pada praktik pendidikan kita dan memang sejumlah negara lain juga memiliki strategi pendidikan berdasar nilai lama. Kenyataan itu perlu diakui sebagai bagian dari sejarah pendidikan saja sistem pendidikan terdahulu memang cocok menghadapi tantangan masa lalu. Namun, dunia hari ini berdasarkan tata nilai yang benar-benar baru. Kebersamaan seluruh umat manusia lintas negara serta budaya sedang ditantang guna menyelesaikan berbagai masalah dunia. Maka, sistem pendidikan nasional juga perlu merumuskan ulang arah pendidikannya berdasarkan tata nilai baru, seperti kebersamaan wabah Covid-19 telah menghentikan kesempatan belajar 1,6 miliar anak di dunia dan membuktikan kerentanan sistem pendidikan, situasi dunia belakangan ini ditandai pula dengan kemerosotan demokrasi dan meningkatnya keterbelahan bangsa serta kekerasan di masyarakat. Mundurnya demokrasi dan melemahnya kebangsaan tak hanya terjadi di negara Dunia juga RUU Sisdiknas Siapkan Pendidikan yang Adaptif dan Fleksibel dengan Perkembangan ZamanNegara adidaya AS, yang sebelumnya senantiasa dicitrakan sebagai benteng pertahanan demokrasi, pada 2021 untuk pertama kali dikategorikan sebagai negara yang demokrasinya sedang mundur International Institute for Democracy and Electoral Assistance, 2021. Sulit membayangkan upaya primitif seperti mempersulit warga negara melaksanakan hak pilihnya digelorakan di republik yang sudah tak muda lagi karena itu, tak mengejutkan jika komisi masa depan pendidikan UNESCO menyimpulkan kerapuhan planet Bumi, kemunduran demokrasi dan meningkatnya pengutuban, teknologi digital yang menghubungkan dan memecah belah, serta ketakmenentuan masa depan dunia kerja sebagai empat disrupsi atau usikan utama yang dihadapi dunia dan perlu ditanggapi institusi diresapi, indikasi empat usikan yang saling beririsan itu juga sudah terasa di Indonesia, maka ruang kelas kita juga tidak boleh steril darinya. Namun, bagaimana sistem pendidikan nasional mengalamatkan empat masalah global tadi?Sistem pendidikan nasional secara umum mempunyai sejumlah perangkat, seperti perundangan, peraturan, standar, kurikulum, capaian pembelajaran, buku teks, dan lainnya, tetapi juga perlu mengusung pesan utama atau adicita yang melandasinya. Adicita ini yang selanjutnya akan menjadi nyawa sistem pendidikan secara SWMaka, apa seharusnya nyawa sistem pendidikan Indonesia dalam tata nilai dunia yang baru ini? Jawabannya belum kita ketahui. Gagasan yang paling sesuai bagi Indonesia harus dicari bersama. Meski demikian, yang kita tahu pasti, adicita pendidikan itu harus sanggup menjadi kerangka guna membedah empat tantangan global usulan awal, gagasan seperti interconnectedness atau kesalingterhubungan dapat dijadikan sebagai kandidat adicita sistem pendidikan nasional dicatat, sejumlah kebijaksanaan luhur serta keyakinan masyarakat tradisional di Indonesia sesungguhnya sudah tak asing dengan pesan kesaling-terhubungan dalam kehidupan, yakni bahwa segala sesuatu di semesta ini saling terhubung. Oleh karena itu, walau sistem pendidikan nasional berlandaskan kesalingterhubungan berkepentingan dengan isu global, sistem pendidikan nasional tetap terhubung dengan lingkungan pendidikan nasional yang mengusung kesalingterhubungan sebagai tiang utamanya akan berkembang kokoh berlandaskan konsep yang jelas. Guru dapat merancang desain pembelajarannya dengan kreatif demi mutu belajar siswa karena sistem pendidikan ini luwes untuk dikembangkan, tetapi juga memberikan kerangka yang pendidikan nasional yang mengusung kesalingterhubungan sebagai tiang utamanya akan berkembang kokoh berlandaskan konsep yang tataran abstrak, empat usikan besar tadi dapat ditelaah menggunakan ”lensa berpikir” kesalingterhubungan dan telaah dilakukan menerapkan berbagai disiplin serta lintas disiplin pengetahuan. Sedangkan pada tataran pedagogi, interaksi siswa dan guru dalam pembelajaran juga akan menggunakan kerangka pengetahuan guru dan murid bukan lagi mengikuti model pemberi-penerima, tetapi menggunakan model pengetahuan sebagai milik dan dikembangkan bersama. Hubungan antarpengetahuan yang berkerangka kesalingterhubungan akan mendorong semangat kelintasdisiplinan. Tak lupa, ruang kelas menjadi laboratorium komunikasi dunia berwacana universal, seperti perubahan iklim dan ketimpangan ekonomi, tetapi juga tetap terhubung kuat dengan wacana di pada tataran pembelajaran, siswa membangun pemahamannya pada konsep kesalingterhubungan dengan alam. Sebagai ilustrasi, seperti di kurikulum kelas IX yang disusun Yukon First Nations Curriculum Working Group Yukon adalah sebuah teritori paling barat di Kanada juga menggunakan kesalingterhubungan sebagai gagasan utama juga Pendidikan Masa Depan Mesti Memperkuat Solidaritas GlobalDi kurikulum ini, dirancang kegiatan mengukur diameter batang pohon. Dari situ pelajar memperkirakan jumlah biomassa dan kadar nutrisi dari pohon-pohon di sekitar sekolah. Kemudian, siswa menghitung kandungan karbon setiap pohon dan penyerapan karbon dioksidanya. Dari pengalaman itu pula siswa membangun pemahaman bagaimana kesaling -terhubungan beraksi di planet saat yang sama, kegiatan komputasi dan pemanfaatan teknologi informasi dipelajari secara bermakna, tak sekadar manipulasi angka yang mekanistis. Gagasan utama kesalingterhubungan juga secara alami muncul pada saat siswa mempelajari konsep matematika seperti pola, fungsi, data, dan sebagainya. Kecuali itu, siswa telah terjun langsung mempraktikkan kesalingterhubungan disiplin sains, teknologi, matematika, dan kesadaran pada lingkungan hidup secara di pelajaran IPS, gagasan kesalingterhubungan itu dapat menjadi lensa guna membedah pengetahuan tentang pemerintahan dan jalinan kebangsaan. Dalam mata pelajaran bahasa, gagasan kesalingterhubungan ini menjadi lensa guna membedah struktur kalimat dan paragraf. Di mata pelajaran kesenian, kesalingterhubungan menjadi lensa berpikir guna membedah berbagai fenomena serta melalui sistem pendidikan ini, siswa membangun kesadaran untuk berkontribusi merawat lingkungan dan mengokohkan persaudaraan serta perdamaian. Secara paralel, para siswa tetap mengasah kecakapannya dalam disiplin matematika, sains, teknologi, serta kecakapan abad ke-21 lainnya secara terhubung satu sama lain dengan porsi waktu tetap sama. Kesalingterhubungan yang diusulkan di sini baru satu kandidat sebagai adicita sistem pendidikan dan tentunya sangat mungkin masih ada gagasan utama lain yang lebih nilai baruSetiap anak Indonesia, seperti teman sebayanya di negara lain, mendambakan sistem pendidikan yang berlandaskan tata nilai baru. Guna mewujudkan pendidikan seperti itu di Indonesia sama sekali tak mustahil, tetapi upaya sistematis menuju ke sana harus digarap pada tataran konsep dan teknis yang mendasar sekaligus rinci. Berbagai pembuatan undang-undang, aturan, dan kurikulum telah menyerap dana dan waktu, tetapi selalu jauh panggang dari Pranoto, Pengajar Matematika di ITBDOK. PRIBADIIwan Pranoto EditorSRI HARTATI SAMHADI, YOHANES KRISNAWAN

opini tentang hari pendidikan nasional